Tips Menghadapi Psikotes atau TPA atau Tes Psikologi

Standar

Tips Menghadapi Psikotes
atau TPA atau Tes Psikologi

Bagi anda yang dipanggil untuk menjalani psikotes, sebaiknya anda memperhatikan beberapa saran dan tips di bawah ini.
Sebelum Tes

  • Anda harus yakin terlebih dulu, bahwa posisi/pekerjaan yang akan dimasuki lewat psikotes itu benar-benar sesuai dengan kemampuan anda, dan sebaiknya juga sesuai dengan keinginan anda.
  • Persiapkan diri dengan istirahat yang cukup. Seringkali, seseorang sebenarnya mampu mengerjakan tes. Namun, ketegangan atau kondisi tubuh yang tidak prima, dapat membuat hasil tes menjadi jelek. Oleh karena itu, anda harus beristirahat satu atau dua hari sebelumnya agar kondisi fisik menjadi prima.
  • Pastikan anda sudah tahu tempat tes. Disarankan beberapa hari sebelum tes, anda sudah mengetahui tempatnya, bahkan sudah melihat tempatnya.
  • Baca kembali surat lamaran dan CV anda, karena ada beberapa tes yang menanyakan hal-hal yang terkait dengan surat lamaran dan CV anda. Jangan sampai jawabannya berbeda dengan CV anda.
  • Sebaiknya anda berlatih berbagai soal psikotes, sehingga anda menjadi benar-benar siap menghadapi psikotes dengan hasil maksimal.
    Anda dapat menggunakan “latihan psikotes” (silakan klik) pada situs ini untuk berlatih berbagai soal psikotes.
  • Sebelum berangkat ke tempat tes, berdoalah terlebih dulu sesuai keyakinan anda.
  • Usahakan untuk tiba sepuluh menit lebih awal, dan jangan terlambat. Juga sebelum berangkat, jangan lupa untuk makan dan minum secukupnya agar kondisi fisik tetap prima.
  • Walaupun tidak diminta, jangan lupa untuk membawa peralatan tulis-menulis (pensil, penghapus, pena, dsb-nya) dan membawa jam (penunjuk waktu).

Pada Saat Tes

  • Umumnya, pada setiap lembar jawaban/soal psikotes, anda diminta mengisi isian nama, tanggal, dsb-nya. Begitu anda diperbolehkan untuk mulai mengisi, jangan lupa dan jangan menunda untuk mengisinya, serta isilah dengan lengkap dan rapi.
  • Dengarkan baik-baik setiap “ucapan/pengarahan” dari pengawas tes, dan ikuti semua arahan/petunjuknya. Demikian juga petunjuk yang ada di setiap soal tes, jangan lupa untuk membaca petunjuk tersebut terlebih dulu, barulah anda mengerjakan soal tes-nya. Jadi jangan langsung mengisi/menjawab soal yang ada, tanpa membaca/mengetahui cara/petunjuk pengisiannya.
  • Jangan enggan untuk bertanya ke pengawas tes. Bila ada sedikit saja yang anda tidak mengerti mengenai soal tersebut, maka langsung tanyakan ke pengawas tes yang ada. Dan jangan pernah bertanya ke peserta di kanan-kiri anda, tetapi bertanyalah ke pengawas tes yang ada.
  • Jangan melihat jawaban orang lain, karena akan membuat hasil anda bertentangan dengan kondisi pribadi yang sesungguhnya. Isilah apa adanya. Untuk jenis-jenis soal tertentu, jawablah yang mudah terlebih dulu.
Sumber : bursa-kerja.ptkpt.net, ggkarir.com, ggiklan.com, cangkok.com, gilland-ganesha.com, ptn-pts.org

Daftar harga CDI terbaru versi http://www.harga-motor.com/

Standar

Report Price List January 2011

Merk
Type
Price (IDR)

BRT Dual Band, Smart Click
Honda Karisma
610.000
BRT Dual Band, Smart Click
Honda CBR 150
660.000
BRT Dual Band, Smart Click
Honda Sonic
660.000
BRT Dual Band, Smart Click
Suzuki Smash
610.000
BRT Dual Band, Smart Click
Suzuki Shogun 125
610.000
BRT Dual Band, Smart Click
Bajaj Pulsar 200
660.000
BRT Dual Band, Smart Click
Kawasaki KZX 130
610.000
BRT Hyperband
Yamaha Yupiter MX 135 LC, limiter
445.000
BRT Hyperband
Suzuki Satria FU 150
595.000
BRT Hyperband
Suzuki Satria FU 150, limiter
595.000
BRT Hyperband
Honda Sonic
595.000
BRT Hyperband
Honda Sonic, New
595.000
BRT Hyperband
Suzuki Thunder 250
635.000
BRT Hyperband
Honda CBR 150
595.000
BRT Hyperband
Yamaha F1ZR, AC
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Jupiter Z
395.000
BRT Hyperband
Honda Karisma
395.000
BRT Hyperband
Honda Kirana, Kawasaki Blitz
395.000
BRT Hyperband
Yamaha RX-King, AC
395.000
BRT Hyperband
Yamaha RX-King, DC
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Satria 120, 23 + Socket CDI
410.000
BRT Hyperband
Suzuki Satria 120, 26 + Socket CDI
410.000
BRT Hyperband
Kawasaki KZX 130
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Mio
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Mio, 32
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Mio, 35
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Mio, 37
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Scorpio
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Shogun 110
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Shogun 125
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Spin
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Smash
395.000
BRT Hyperband
Honda Supra/ Legenda
395.000
BRT Hyperband
Suzuki Thunder 125
395.000
BRT Hyperband
Honda Tiger
395.000
BRT Hyperband
Yamaha Vega R
395.000
BRT Hyperband
Kawasaki Blitz
395.000
BRT Master Chip
Yamaha Jupiter Z, 8 Chip
1.410.000
BRT Master Chip
Honda Karisma, 8 Chip
1.410.000
BRT Master Chip
Suzuki Smash, 8 Chip
1.410.000
BRT Master Chip
Suzuki Shogun 110, 8 Chip
1.410.000
BRT Neo Dual Band
Honda CBR 150, ST
660.000
BRT Neo Dual Band
Honda CBR 150, TR
660.000
BRT Neo Dual Band
Honda CBR 150, RK
660.000
BRT Neo Dual Band
Honda CS-1, ST
660.000
BRT Neo Dual Band
Honda CS-1, TR
660.000
BRT Neo Dual Band
Honda CS-1, RK
660.000
BRT Neo Dual Band
Yamaha Jupiter MX 135 LC, TR
505.000
BRT Neo Dual Band
Yamaha Jupiter MX 135 LC, ST
505.000
BRT Neo Dual Band
Yamaha Jupiter MX 135 LC, RK
505.000

CDI BRT

Standar

Perkembangan teknologi mesin sepeda motor secara mekanikal telah mengalami kemajuan sangat pesat tetapi tidak sebanding dengan perkembanganelectronic yang mengendalikan mesin. Dengan konsepDigital semua perangkat yang dikendalikan akan lebih presisi.

Oleh sebab itu, kami telah melakukan penelitian selama
bertahun-tahun dan mengembangkan sistem pengapian CDI
(Capacitance Discharge Ignition) berbasis teknologi Digital.
Digital CDI yang kami kembangkan bekerjasama dengan
perusahaan terbesar di dunia untuk
microcontroller
(microchip komputer) yaitu Phillips Semiconductor.
Digital CDI adalah sistem pengapian CDIyang
dikendalikan olehmicroco mputer agar Ignition Timing (waktu
pengapian) yang dihasilkan sangat presisi dan stabil sampai
RPM tinggi. Akibatnya pembakaran lebih sempurna dan

hemat bahan bakar, serta tenaga yang dihasilkan akan sangat stabil dan besar mulai dari putaran rendah sampai putaran tinggi. Dengan Digital CDI, emisi yang dihasilkan juga sangat rendah itu sebabnya kami juga menyebut

teknologi Digital CDI kami dengan GREEN CDI (CDI Hijau
= ramah lingkungan).
Digital CDI Hyper Band merupakan pengembangan

pertama yang berbasis digital dengan kurva pengapian terprogram untuk menghasilkanpowerband yang sangat lebar hingga mencapai lebih dari 20.000 rpm tanpa adanya batasan(limiter).

Digital CDI Dual Bandadalah CDI Digitalpengembangan
kedua yang kami ciptakan untuk keperluan Standard, Tune
Up, Racing dan kompetisi. Dengan teknologi Dual Band,
kami menggabungkan seluruh keperluan pemakaian sepeda
motor yaitu :
“Standard & Tune Up, Tune Up & Racing dan Racing &
Competition”.
CDI Dual Band terdiri dari dua kurva pengapian yang

telah diprogram secara permanen dan disesuaikan dengan kebutuhan di atas. Kurva-kurva pengapian tersebut dibuat berdasarkan hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan secara sistematis melalui team Balap “ Bintang Racing Team (BRT)”.

CDI Dual Band juga menganut teknologi Hyper Band
(tanpalimiter) dan dilengkapi ALVP (Automatic Low Voltage
Protection) untuk menghindari kerusakan fatal akibat
tegangansupply yang minim (accu tekor).
CDI Dual Band sangat bermanfaat untuk para pencinta
motor yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Secara garis besar CDI Dual Band terdiri atas beberapa

aplikasi, sbb :
1.Standard dan Tune Up (ST).
2.Tune Up danRa cing (SR).
3.Racing danCompetition (RC).

Dalam aplikasiRacing dan Competition CDI Dual Band
dapat dipadukan dengan Digital Smart Box.
II.Keun tu nga nCD I BRT
Keuntungan menggunakan CDI BRT adalah sbb :
1. Tenaga kuda (Horse Power) akan meningkat hingga 20%. *
2. Meningkatkan respon dan akselerasi. **
3. Power Band bertambah lebar hingga 2000 RPM.
4. Hemat pemakaian Baterai/AKI hingga 30%.
5. Hemat bahan bakar hingga 29. 0%.***
Catatan :
*)
Diuji pada motor Honda Karisma 125 Standard pada tgl
10 Feb 2005 menggunakan DYNOJET 250i
(Dynamometer) pada temperature 34ºC; kelembaban
34%; 994.5mBar; tenaga kuda 7.96dk pada 9000 Rpm
menjadi 8.66 dk.

**) Diuji pada motor Yamaha RX KING ; pada tgl 10 Feb 2005 menggunakan DYNOJET 250i; akselerasi 0 – 100 km/jam 8 detik menjadi 6 detik pada temperature 35ºC; kelembaban 34%; tekanan 994.4 mBar.

***) Uji coba dilakukan oleh Tabloid Motor Plus edisi No.348/VI sabtu 29 Oktober 2005, hal 7; pada motor Suzuki Shogun 125; penghematan hingga 29.14%

III. Jaminan Kualitas

Semua produk CDI BRT telah 100% melalui UJI KETAHANAN dengan metodaC harging selama 8 jam pada 6000 RPM yang ekivalen dengan pemakaian 5 tahun pada kondisi normal.

IV. Petunjuk Pemasangan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat
pemasangan Digital DC CDI sbb:
a. Periksa dan pastikan teganganAc cu 12,5Volt.

b. Pastikan pemasangan kabel sesuai dengan warna yang sama bila menggunakan kabel adapter sebab jika tidak sesuai maka akan menyebabkan kerusakan/ konsleting.

c. Pastikan komponen penunjang seperti COIL, KIPROK
(Rectifier Regulator)adalah Original Standar.

d. Pastikan Panjang Pick-up Pulser (Tonjolan Sensor) pada magnet (Fly Wheel) adalah standard sebabCDI telah diprogram dengan kondisi tonjolan Sensor standard.

V. Penyebab kegagalan aplikasi
Ada beberapa hal yang menyebabkan kegagalan dalam
aplikasi CDI sbb :

a. Kesalahan yang disebabkan penyambungan warna kabel.(ikuti petunjuk pada poin no.VIII pin koneksi dan poin no.IX kabel koneksi).

b. Kiprok Cas (Rectifier Regulator) tidak orisinil.
c. Aki tidak terpasang dengan benar atauACCU rusak.

d. TeganganACCU atau tegangan supplyCDI tidak pada tegangan kerja yaitu : 11 s/d 18 volt; hal ini disebabkan karenaACCU telah rusak atau Kiprok Cas rusak atau tidak orisinil.

e. MemakaiCoil yang tidak sesuai dengan spesifikasiCDI,
contoh pemakaianCoil Mobil.
f. Dengan sengaja membuat konslet outputCDI ke massa
(biasanya memercikan api keluaranCDI ke massa).

g. Kabel massa ada yang kendur

h. Pemasangan pemutus arus (kunci kontak) tidak pada koneksi yang benar.

VI.Teknik Modifikasi Pengapian

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat modifikasi
pemakaianCDI sbb :
1. Pin koneksi harus benar atau koneksi kabel sesuai warna
dan fungsinya.
2. Panjang Pick-Up pulser (tonjolan sensor) harus

disesuaikan dengan karakterC DI yang akan dipergunakan.

untuk info lebih lengkap kunjungi Sumber :http://www.scribd.com/doc/11720616/Buku-Panduan-Cdi

 

 

 

 

 

Pertarungan CDI Unlimiter: CDI Rextor, CDI BRT, XP 202, CDI Cheetah

Standar

OTOMOTIFNET – Setelah sebelumnya melakukan tes optimalisasi bahan bakar dengan berbagai macam produk pengirit bahan bakar yang di rancang oleh Hendry Martin, ST. Kali ini Otonetters, komunitas member di Forum OTOMOTIFNET.COM kembali mengibarkan bendera Otoneters Indepnedent Tester dengan melakukan pengetesan CDI programmable untuk Honda Supra X125.

Sekaligus dipilih 4 merek dalam pengetesan ini yaitu BRT, Rextor, XP202 dan Cheetah Power. Syaratnya harga jual masing-masing CDI yang diiukutkan dalam komparasi ini harus tidak lebih Rp 500 ribu. Harga ini paling ideal untuk kebutuhan korek harian atau sekedar plug & play pada motor dengan spek standar.

Pengetesan CDI berlangsung cukup panjang dari akhir Februari hingga awal April ini. Panjangnya waktu disebabkan ada empat variable pengetesan yang dites secara terpisah. Yaitu, peak rpm untuk mencari siapa yang punya limiter paling tinggi. Kemudian ada tes akselerasi dengan menggunakan alat ukur Racelogic.

Dilanjutkan dengan melakukan tes konsumsi bahan bakar dan terakhir tes power dan torsi dengan dyno tes. Tujuan pengetesan ini dalam beberapa tahapan terpisah, bukan untuk mencari siapa yang terbaik diantara keempat CDI tersebut. Tapi lebih berfungsi untuk memetakan mana yang terbaik sesuai kebutuhan konsumen. Mengingat tiap CDI memiliki karakter yang berbeda satu sama lain.

Motivasi konsumen dalam memilih CDI pun berbeda-beda. Ada yang mengganti CDI sekedar karena mencari tenaga besar tapi ada juga yang hanya ingin akselerasi motornya makin ngacir atau malah ingin konsumsi bahan bakarnya semakin irit. So, mari ikuti ringkasan dari empat proses pengetesan ini.

Pengetesan ini dilakukan pada sebuah Honda Supra X125 pinjaman dari PT Astra Honda Motor (AHM) dalam kondisi benar-benar baru dan standar tanpa ubahan apapun. Juga dipilih tiga tester untuk menjalani semua rangkaian pengetesan. Dua dari member Forum OTOMOTIFNET.com (Bintang Pradipta dan Spidlova) dan satu wakil dari redaksi OTOMOTIFNET.com (Popo).

Dalam keseluruhan pengetesan ini digunakan kurva yang telah direkomendasikan oleh masing-masing produsen CDI. BRT meminta klik kurvanya disetting di posisi angka 8 yang artinya timing pengapian di atur pada 35 derajat sebelum titik mati atas. Rextor memilih kurva ditaruh di posisi angka 0. Sedang Cheetah Power menyarankan untuk menggunakan kurva pertama. Dan XP202 karena tidak memiliki pilihan kurva maka langsung colok.

Pengetesan Tahap 1 : Siapa Limiter Tertinggi?

Bertempat di bengkel Otomotif Service Station (OSS), pengukuran dilakukan dengan rpm meter merek BRT. Suhu mesin dipatok 70 derajat celcius dengan toleransi 5 derajat celcius. Masing-masing CDI dapat giliran digeber dua sampai tiga kali. Hasilnya saat di gas pada putaran mesin( rpm) paling tinggi, semua CDI ini mampu membuat mesin berteriak lebih dari 12.000 rpm. Bandingkan dengan CDI standar yang hanya bermain di angka 9.000 rpm.

CDI Standar = 9.841 rpm
CDI BRT Neo Click = 12.930 rpm
CDI Cheetah Power CP 400 = 12.700 rpm
CDI XP = 12.400 rpm
CDI REXTOR = 12.280 rpm

Pengetesan Tahap 2: Siapa Akselerasi Tercepat?

Bertempat di depan kantor OTOMOTIFNET.com pengetesan akselerasi dimulai pada jam 11 malam saat kondisi jalan sudah benar-benar lengang. Panjang lintasan sekitar 300 meter, 200 meter untuk pengetesan dan 100 untuk jarak pengereman. Panjang trek ini mirip panjang lintasan drag bike yang panjangnya 201 meter.

Kondisi mesin tetap standar tanpa ubahan apapun. Dan semua tester (Bintang pradipta, Spidlova dan Popo) punya kesempatan 2 kali running untuk tiap CDI. Hasil di bawah ini diambil catatan waktu terbaik untuk 100m dan 200m. Catatan waktu selama pengetesan ini diukur dengan alat ukur Racelogic.

CDI Standar
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100     10.0
0-200     14.7
Bintang Pradipta
0-100     11.7
0-200     16.7
Popo
0-100     09.0
0-200     14.1

CDI BRT Neo Click
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100     10.3
0-200     15.1
Bintang Pradipta
0-100     09.4
0-200     14.2
Popo
0-100     08.5
0-200     13.3

CDI Cheetah Power CP 400
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100     08.1
0-200     12.9
Bintang Pradipta
0-100     09.6
0-200     14.6
Popo
0-100     09.3
0-200     14.4

CDI XP
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100     09.5
0-200     14.4
Bintang Pradipta
0-100     09.7
0-200     14.6
Popo
0-100     09.1
0-200     14.0

CDI REXTOR
Spidlova
Distance(m) Time(s)
0-100     10.6
0-200     15.4
Bintang Pradipta
0-100     09.6
0-200     14.5
Popo
0-100     09.2
0-200     14.1

Pengetesan Tahap 3: Sipa Konsumsi Bahan Bakar Teririt?

Pengukuran konsumsi bahan bakar dilakukan dengan menggunakan burette (gelas ukur), cara pengetesannya dengan melihat siapa yang paling cepat menghabiskan 100ml bensin. Secara sederhana dari hasilnya bisa dilihat, yang cepat habis berarti boros sedang yang lama abisnya berarti irit.

Saat pengetesan motor dalam keadaan diam dengan suhu mesin dipatok pada kurang lebih 70 derajat celcius. Dan putaran mesin dibuat statis pada 5000rpm. Pengukuran dilakukan dengan 3 stopwatch yang dipegang oleh Arseen lupin, Nanda, dan David. Didapat hasil rata-rata sebagai berikut:

CDI Standar : 1 menit 16 detik
CDI BRT Neo Click : 1 menit 25 detik (penghematan 11,84%)
CDI Cheetah Power CP 400 : 1 menit 22 detik (penghematan 7,89%)
CDI XP : 1 menit 15 detik (lebih boros 1,31%)
CDI Rextor : 1 menit 17 detik (penghematan 1,31%)

Pengetesan Tahap 4: Siapa Power Tertinggi?

Test terakhir ini dilakukan di dynamometer bermerek Dyno Dynamic milik bengkel Khatulistiwa dikawasan Jl Pramuka, Jakarta Timur. Pengetesan dyno dilakukan tanpa ubahan apapun pada motor. Bahkan settingan angin dan bensin pada karburator dibuat seragam meski gonta ganti CDI. Pengetesan dilakukan 2 kali, dengan spuyer standar dan dengan spuyer yang sudah naik satu step dari standar. Ukuran 35/75 menjadi 38/78.

CDI juga tetap menggunakan pilihan klik/kurva yang sama dengan 3 test sebelumnya. Pada pengetesan ini suhu mesin dipatok seragam pada 90 derajat celcius sebelum mesin digas. Berkat blower yang dipasang di dekat blok silinder suhu mesin selama pengetesan bisa stabil dikisaran 100-110 derajat celcius. Dan tiap CDI punya kesempatan 5 kali run. Hasil yang diperoleh cukup mencengangkan.

Sesi pertama tanpa jeting
Max Power CDI Standar : 8 dk
Max Power CDI XP : 7,8 dk
Max Power CDI Rextor : 7,9 dk
Max Power CDI Cheetah Power : 7,3 dk
Max Power CDI BRT : 7,7 dk


Sesi kedua dengan jeting

Max Power CDI Standar : 7,4 dk
Max Power CDI XP : 6,1 dk
Max Power CDI Rextor : 7,5 dk
Max Power CDI Cheetah Power : 6,8 dk
Max Power CDI BRT : 7,3 dk

Created By: otomotifnet.com

KARENA ARTIKEL INI SIFATNYA MILIK OTOMOTIFNET…… JADI KLO ADA PERTANYAAN, SILAKAN DI TANYAKAN PADA SANG EMPU-NYA…… :D

For sumber : http://willycar.wordpress.com/2009/04/14/pertarungan-cdi-unlimiter-cdi-rextor-cdi-brt-xp-202-cdi-cheetah/

Solusi baru Motor Udara

Standar

Ini nih solusii yang perlu mendapat acungan jempol Perkembangan mesin kendaraan bermotor saat ini sangatlah pesat. Mesin yang dipakai saat ini semakin bertenaga tetapi irit bahan bakar. Bahkan mesin bertenaga besar yang liar dapat menjadi jinak dikendalikan, berkat teknologi elektronik. Semua itu karena teknologi yang dikembangkan. Tetapi semasih menggunakan bahan bakar dan terjadi pembakaran di dalam mesin untuk menghasilkan energi, maka mesin tersebut akan menghasilkan emisi yang tidak baik bagi lingkungan.

Oleh sebab itu sebagai seorang enginer kita perlu memikirkan konsep mesin yang ramah lingkungan dan kalo bisa zero emision. Inilah cita-cita dari GTX Motorsport. Dan kami melihat bahwa motor bertenaga angin sangat mungkin dipakai sebagai kendaraan masa depan. Dengan cara memampatkan udara ke dalam tabung dan tekanan udara tersebut dipakai untuk menggerakkan kendaraan. Mesin yang di pakai bisa model rotor atau model torak.

Salah satu contoh Motor dengan mesin udara yang menarik bagi GTX adalah disain dari Edwin Yi Yuan yang dirancang untuk memecahkan rekor kecepatan motor bertenaga udara.

Dengan menggunakan mesin rancangan dari Angelo Di Piero dari Melbourne Australia. Mesin ini digerakkan karena tekanan udara dari dua buah tabung udara bertekanan tinggi yang dapat membuat mesin tersebut berputar lebih dari 10.000 rpm. Dan tidak memerlukan Gearbox,tetapi hanya menggunakan dua gear sproket yang memiliki ukuran sama untuk meneruskan putaran mesin ke roda belakang.

Gambar diatas adalah bagaimana cara kerja mesin angin yang merubah tekanan udara menjadi tenaga putar.

Dan yang ini adalah bebtuk utuh prototype mesin udara.

Yang perlu kita pikirkan saat ini bagai mana cara memampatkan udara ke dalam tabung agar tidak menggunakan kompresor dengan bahan bakar. Kalo pakai kompresor bertenaga motor bakar, berarti sama dengan boong untuk bisa lebih ramah lingkungan. Untuk masalah ini dapat menggunakan kompresor listrik dan listriknya dari matahari jadi benar-benar zero emision seperti angan-angan GTX.

Jadi bagi para enginer muda mari kita berpikir untuk masa depan. Membuat sesuatu yang baru yang dapat berguna bagi kehidupan kita. Jangan tunggu sampai orang lain yang buat baru kita tinggal ngikut. Sebenarnya kita bisa….!!

Bila kamu suka Racing, mulai saat ini berfikir untuk membuat motor kencang yang ramah lingkungan…..

Tinggalkan pemikiran bikin motor kencang adalah : Bore Up+Stroke Up= Boros
Tapi mulailah berfikir belajar lebih maju..banyak koq yang masih bisa dikembangkan.
Karena itu juga GTX motorsport ga suka dengan yang namanya balap liar. Kapasitas mesin ga jelas. Sangat tidak mendidik. Coba kapasitas yang dipatok jelas sesuai regulasi jadi kelihatan hasil setingan kita, kan kapasitas mesin udah tau

Keren!!!Modifikasi Honda GL 100 Jadi Berwajah Sangar

Standar

lagi-lagi motor GL 100 bikin geleng-geleng pengila modif lihat aja motor ini.

Melalui sentuhan modifikasi dari tangan Abdul Aziz dari Magetan, Honda GL 100 gl 100berusia seperempat abad disulap jadi motor baru berwajah sangar namun jantan. Builder dari rumah modifikasi A1 Modified ini memadukan Cagiva V-Raptor 1.000 cc dengan Aprilia RSV4, tunggangan Max Biaggi di arena kejuaraan dunia balap superbike (WSBK).

Aziz merombak hampir semua bagian motor lawasnya itu. Bentuk depan misalnya, Aziz terinspirasi Cagiva V-Raptor 1.000 cc. “Tandanya bisa dilihat dari model semacam tanduk di bagian depan antara batok lampu dan tangki,” bilang Aziz. Semua material untuk modif ini memakai pelat galvanis setebal 0,9 mm.
Sadar penggunaan pelat yang cukup tebal pastinya berimbas pada bobot motor secara keseluruhan. gl 100 modifikasiMakanya, di sini Aziz cukup jeli memadukan ubahan di bagian depan. Dimensi pelat besinya disesuaikan dengan pilihan batok lampu yang cabutan dari Honda Supra-X 125. “Harus hati-hati membuatnya sebab kalau kebesaran maka akan jelek. Makanya ukuran batok lampu itu salah satu acuan,” paparnya.

Selain depan, untuk meminimalkan bobot, seluruh rangka diganti dengan menggunakan pipa tubular. gl100“Karena ingin mengejar tampilan,” sebut Aziz. Seluruh rangka baru menggunakan pipa berdiameter 1 inci.

Bila bagian depan bernuansa sport, belakang lebih dahsyat lagi. Aziz meniru Aprilia RSV4. “Memang sport abis karena runcing dan nungging,” kekeh pria ramah itu. Karena modelnya sport, maka jok pun didesain single seater.

Seluruh bagian motor ini full custom. Enggak hanya sekadar bodi, tetapi kaki-kaki mulai dari swing-arm hingga upside down pun custom. Inilah bagian yang jarang dilakukan builder lain. “Kebetulan, saya sering membuat upside down dan sekarang banyak terima order dari luar Jawa,” ujar Aziz bangga.

Dalam membuat suspensi depan, Aziz masih menggunakan beberapa komponen standar. Shock asli dibubut dan dilanjutkan pakai sambungan baru. “Kemudian, saya custom pakai sistem drat. Di dalamnya ada 3 komponen terpisah,” tambahnya. Adapun bagian luar shock dibungkus pakai pelat supaya tampak lebih kekar.

for sumber :http://indomodif.blogspot.com/2009/05/modifikasi-honda-gl-100-jadi-berwajah.html

Gila-Gila’an GL 100 Bergaya Chopper

Standar

GL 100 Bergaya Chopper : Tak Asal Murah

Ide gila kali ini datang dari tmen kita johan atau acong Gara-gara kepincut motor yang biasa ditunggangin orang-orang berambut gondrong dengan banyak tato yang menghiasi sebagian tubuh mereka, Johan atau yang akrab di sapa Acong oleh teman tongkrongannya, ngebet banget pengen punya Harley Davidson. “Keren, gagah dan wahhh lah pokoknya kalo naik tuh motor,” jelas johan bersemangat.
“Tapi duit dari mana beli motor begituan, Cuma bisa melihat, membayangkan dan memimpikan tuk bisa berada diatas tuh motor.”
Ya. lagi-lagi kekuatan mimpi yang berperan dalam sebuah keberhasilan orang. Dari mimpinya itu akhirnya Acong bisa beli motor. Sayangnya bukan motor Harley Davidson, Cuma motor GL100 lansiran 1982.
“Biar Cuma GL100, tapi gw bangga banget punya tuh motor apa lagi waktu masih dandan ala café racer tahun 50an, gak ada yang gak ngelirik dan memandang motor gw sambil terkagum-kagum,” jelasnya sambil tertawa bangga.
Hingga satu ketika muncul ide untuk merombak GL100 miliknya dengan tampilan baru. Namun Acong dan teman-teman satu tongkongannya bingung mau diapain GL tua ini. Berbekal dari keinginan punya Harley dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, terciptalah motor bergaya chopper ini.
Hasil gawean Acong and the genk ini terbilang cukup apik dalam pengerjaannya. Sehingga pemakaian part pendukung yang sebenarnya banyak mencomot dari motor-motor China, mampu tersamarkan. Kendati banyak mencomot limbah motor China, tapi ada juga loh limbah motor Harley Davidson benerannya.
“Waktu itu gw dan teman-teman kan baru pada kerja, jadi gak punya cukup duit buat beli limbah moge bermerek, makanya gw pilih limbah motor-motor China yang harganya terjangkau. Tapi ada juga loh limbah Harley Davidson nya, seperti sok depan dan knalpot. Cuma gw lupa Harley Davidson tipe apaan,” jelas Acong.
GL100 yang telah bergaya chopper ini dikerjakan di rumah Acong dengan peralatan yang dibeli dari tabungan pribadinya. Menurut pria kelahiran Pontianak, Kalimantan-Selatan 26 tahun silam, memiliki motor tua punya kesan tersendiri. Meski banyak orang yang mengatakan bahwa motor tua itu ngerepotin karena kudu banyak yang diperbaiki sehingga harus banyak ngeluarin dana, namun tak demikian bagi Acong. Dia menilai punya motor tua itu perawatannya tak semahal seperti yang orang pikirkan. Asal kita tahu bagaimana mengatasi dan menciptakan motor itu menjadi lebih kuat.
“Motor ini banyak yang mau bayarin, tapi gak akan gw jual. Ini motor punya banyak banget sejarah dalam hidup gw. Selain karena gw beli dari tabungan yang gw kumpulin susah payah, motor ini sudah nemenin gw lebih dari 7 tahun. Bahkan pernah ada orang pemda yang mau bayarin dan udah taro duitnya 20 juta di meja gw, tapi tetep gw gak mau. Nih motor gak bisa diukur dengan duit deh”
“Lagi pula nih motor hasil karya gw dan temen-temen sekelas gw di SMA. Sampai sekarang kita masih sering kerja bareng.”
Untuk urusan tenaga chopper ini biar bisa lari degan bodi dan ban yang sudah membengkak, kapasitasnya di tingkatkan menjadi 200 cc. Dan beberapa jeroan Honda Tiger juga di cangkokan di GL 100 yang sudah ganti jubah bergaya chopper. Selain itu, karbutaror NSR SP dan CDI BRT juga di pasang pada chopper ini.
Untuk mendapatkan model chopper sesuai ide, tangki besar milik Hyosung disanggkutkan pada rangka chopper ini dan merubah sudut rake menjadi sekitar 40 drajad. “Sudutnya berubah menjadi 40 drajat apa 50 yah, gw lupa,” kata Bebeng, teman satu tongkrongan Acong.
“Kita masih banyak belajar modifikasi, tapi meski terbilang masih anak bawang gw dan temen-temen bangga dengan hasil ini. Dan gw yakin bakal maju bareng temen-temen gw,” pungkas Acong.
Data Spesifikasi
Head Lamp : After market
Setang : Custom Satu Hati Motor
Sok Depan : Harley Davidson
Tangki : Hyosung
Jok : Custom Satu Hati Motor
Rangka : Custom Satu Hati Motor
Swing Arm : Sanex QJ250J
Knalpot : Harley Davidson
Ban depan : Swallow 80/70-21
Ban Belakang : Swallow :160/60-17
Kaliper Rem : RGR
Velg : Camp

Gara-gara kepincut motor yang biasa ditunggangin orang-orang berambut gondrong dengan banyak tato yang menghiasi sebagian tubuh mereka, Johan atau yang akrab di sapa Acong oleh teman tongkrongannya, ngebet banget pengen punya Harley Davidson. “Keren, gagah dan wahhh lah pokoknya kalo naik tuh motor,” jelas johan bersemangat.

“Tapi duit dari mana beli motor begituan, Cuma bisa melihat, membayangkan dan memimpikan tuk bisa berada diatas tuh motor.”

Ya. lagi-lagi kekuatan mimpi yang berperan dalam sebuah keberhasilan orang. Dari mimpinya itu akhirnya Acong bisa beli motor. Sayangnya bukan motor Harley Davidson, Cuma motor GL100 lansiran 1982.

“Biar Cuma GL100, tapi gw bangga banget punya tuh motor apa lagi waktu masih dandan ala café racer tahun 50an, gak ada yang gak ngelirik dan memandang motor gw sambil terkagum-kagum,” jelasnya sambil tertawa bangga.

Hingga satu ketika muncul ide untuk merombak GL100 miliknya dengan tampilan baru. Namun Acong dan teman-teman satu tongkongannya bingung mau diapain GL tua ini. Berbekal dari keinginan punya Harley dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, terciptalah motor bergaya chopper ini.

Hasil gawean Acong and the genk ini terbilang cukup apik dalam pengerjaannya. Sehingga pemakaian part pendukung yang sebenarnya banyak mencomot dari motor-motor China, mampu tersamarkan. Kendati banyak mencomot limbah motor China, tapi ada juga loh limbah motor Harley Davidson benerannya.

“Waktu itu gw dan teman-teman kan baru pada kerja, jadi gak punya cukup duit buat beli limbah moge bermerek, makanya gw pilih limbah motor-motor China yang harganya terjangkau. Tapi ada juga loh limbah Harley Davidson nya, seperti sok depan dan knalpot. Cuma gw lupa Harley Davidson tipe apaan,” jelas Acong.

GL100 yang telah bergaya chopper ini dikerjakan di rumah Acong dengan peralatan yang dibeli dari tabungan pribadinya. Menurut pria kelahiran Pontianak, Kalimantan-Barat 26 tahun silam, memiliki motor tua punya kesan tersendiri. Meski banyak orang yang mengatakan bahwa motor tua itu ngerepotin karena kudu banyak yang diperbaiki sehingga harus banyak ngeluarin dana, namun tak demikian bagi Acong. Dia menilai punya motor tua itu perawatannya tak semahal seperti yang orang pikirkan. Asal kita tahu bagaimana mengatasi dan menciptakan motor itu menjadi lebih kuat.

“Motor ini banyak yang mau bayarin, tapi gak akan gw jual. Ini motor punya banyak banget sejarah dalam hidup gw. Selain karena gw beli dari tabungan yang gw kumpulin susah payah, motor ini sudah nemenin gw lebih dari 7 tahun. Bahkan pernah ada orang pemda yang mau bayarin dan udah taro duitnya 20 juta di meja gw, tapi tetep gw gak mau. Nih motor gak bisa diukur dengan duit deh”

“Lagi pula nih motor hasil karya gw dan temen-temen sekelas gw di SMA. Sampai sekarang kita masih sering kerja bareng.”

Untuk urusan tenaga chopper ini biar bisa lari degan bodi dan ban yang sudah membengkak, kapasitasnya di tingkatkan menjadi 200 cc. Dan beberapa jeroan Honda Tiger juga di cangkokan di GL 100 yang sudah ganti jubah bergaya chopper. Selain itu, karbutaror NSR SP dan CDI BRT juga di pasang pada chopper ini.

Untuk mendapatkan model chopper sesuai ide, tangki besar milik Hyosung disanggkutkan pada rangka chopper ini dan merubah sudut rake menjadi sekitar 40 drajad. “Sudutnya berubah menjadi 40 drajat apa 50 yah, gw lupa,” kata Bebeng, teman satu tongkrongan Acong.

“Kita masih banyak belajar modifikasi, tapi meski terbilang masih anak bawang gw dan temen-temen bangga dengan hasil ini. Dan gw yakin bakal maju bareng temen-temen gw,” pungkas Acong.

Data Spesifikasi

Head Lamp : After market

Setang : Custom Satu Hati Motor

Sok Depan : Harley Davidson

Tangki : Hyosung

Jok : Custom Satu Hati Motor

Rangka : Custom Satu Hati Motor

Swing Arm : Sanex QJ250J

Knalpot : Harley Davidson

Ban depan : Swallow 80/70-21

Ban Belakang : Swallow :160/60-17

Kaliper Rem : RGR

Velg : Camp

Satu Hati Motor : 021 97991179

Gara-gara kepincut motor yang biasa ditunggangin orang-orang berambut gondrong dengan banyak tato yang menghiasi sebagian tubuh mereka, Johan atau yang akrab di sapa Acong oleh teman tongkrongannya, ngebet banget pengen punya Harley Davidson. “Keren, gagah dan wahhh lah pokoknya kalo naik tuh motor,” jelas johan bersemangat.“Tapi duit dari mana beli motor begituan, Cuma bisa melihat, membayangkan dan memimpikan tuk bisa berada diatas tuh motor.”Ya. lagi-lagi kekuatan mimpi yang berperan dalam sebuah keberhasilan orang. Dari mimpinya itu akhirnya Acong bisa beli motor. Sayangnya bukan motor Harley Davidson, Cuma motor GL100 lansiran 1982.“Biar Cuma GL100, tapi gw bangga banget punya tuh motor apa lagi waktu masih dandan ala café racer tahun 50an, gak ada yang gak ngelirik dan memandang motor gw sambil terkagum-kagum,” jelasnya sambil tertawa bangga.Hingga satu ketika muncul ide untuk merombak GL100 miliknya dengan tampilan baru. Namun Acong dan teman-teman satu tongkongannya bingung mau diapain GL tua ini. Berbekal dari keinginan punya Harley dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, terciptalah motor bergaya chopper ini.Hasil gawean Acong and the genk ini terbilang cukup apik dalam pengerjaannya. Sehingga pemakaian part pendukung yang sebenarnya banyak mencomot dari motor-motor China, mampu tersamarkan. Kendati banyak mencomot limbah motor China, tapi ada juga loh limbah motor Harley Davidson benerannya.“Waktu itu gw dan teman-teman kan baru pada kerja, jadi gak punya cukup duit buat beli limbah moge bermerek, makanya gw pilih limbah motor-motor China yang harganya terjangkau. Tapi ada juga loh limbah Harley Davidson nya, seperti sok depan dan knalpot. Cuma gw lupa Harley Davidson tipe apaan,” jelas Acong.GL100 yang telah bergaya chopper ini dikerjakan di rumah Acong dengan peralatan yang dibeli dari tabungan pribadinya. Menurut pria kelahiran Pontianak, Kalimantan-Selatan 26 tahun silam, memiliki motor tua punya kesan tersendiri. Meski banyak orang yang mengatakan bahwa motor tua itu ngerepotin karena kudu banyak yang diperbaiki sehingga harus banyak ngeluarin dana, namun tak demikian bagi Acong. Dia menilai punya motor tua itu perawatannya tak semahal seperti yang orang pikirkan. Asal kita tahu bagaimana mengatasi dan menciptakan motor itu menjadi lebih kuat.“Motor ini banyak yang mau bayarin, tapi gak akan gw jual. Ini motor punya banyak banget sejarah dalam hidup gw. Selain karena gw beli dari tabungan yang gw kumpulin susah payah, motor ini sudah nemenin gw lebih dari 7 tahun. Bahkan pernah ada orang pemda yang mau bayarin dan udah taro duitnya 20 juta di meja gw, tapi tetep gw gak mau. Nih motor gak bisa diukur dengan duit deh”“Lagi pula nih motor hasil karya gw dan temen-temen sekelas gw di SMA. Sampai sekarang kita masih sering kerja bareng.”Untuk urusan tenaga chopper ini biar bisa lari degan bodi dan ban yang sudah membengkak, kapasitasnya di tingkatkan menjadi 200 cc. Dan beberapa jeroan Honda Tiger juga di cangkokan di GL 100 yang sudah ganti jubah bergaya chopper. Selain itu, karbutaror NSR SP dan CDI BRT juga di pasang pada chopper ini.Untuk mendapatkan model chopper sesuai ide, tangki besar milik Hyosung disanggkutkan pada rangka chopper ini dan merubah sudut rake menjadi sekitar 40 drajad. “Sudutnya berubah menjadi 40 drajat apa 50 yah, gw lupa,” kata Bebeng, teman satu tongkrongan Acong.“Kita masih banyak belajar modifikasi, tapi meski terbilang masih anak bawang gw dan temen-temen bangga dengan hasil ini. Dan gw yakin bakal maju bareng temen-temen gw,” pungkas Acong.Data SpesifikasiHead Lamp : After marketSetang : Custom Satu Hati MotorSok Depan : Harley DavidsonTangki : HyosungJok : Custom Satu Hati MotorRangka : Custom Satu Hati MotorSwing Arm : Sanex QJ250JKnalpot : Harley DavidsonBan depan : Swallow 80/70-21Ban Belakang : Swallow :160/60-17Kaliper Rem : RGRVelg : Camp

for sumber :http://gilamotor.com/2010/03/gl-100-bergaya-chopper-tak-asal-murah/